CARENTulE

Berpacu menjadi yang terbaik

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DROWNING

22 April 2015 - dalam KEPERAWATAN Oleh carentule-fkp11

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Drowning atau disebut juga tenggelam adalah suatu proses yang mengakibatkan gangguan respirasi karena cairan (van beck et al, 2005). Hasil akhir dari kejadian tenggelam adalah korban dinyatakan selamat atau meninggal. Penyebab kematian akibat tenggelam diantaranya adalah kematian otak karena hipoksia atau iskemia otak parah, ARDS, kegagalan multi organ, sindrom sepsis karena pneumonia aspirasi (Santoso, 2010).

Berdasarkan data Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Barat, jumlah korban tenggelam diperairan pantai dan aliran sungai di daerah pesisir sejak 2012 lalu hingga 2014, tahun 2012 silam korban tenggelam di pantai mencapai 13 orang, di tahun 2013 mencapai 12 orang, tiga  diantaranya tenggelam di aliran sungai dan di hingga Desember tahun 2014 telah tercatat enam orang, dua tenggelam di aliran sungai empat orang tenggelam dilaut, satu diantaranya hingga kini tidak ditemukan (Radar Lampung, 2014). Selain itu di Jawa Timur juga banyak kejadian kapal yang tenggelam atau perahu nelayan yang dihantam ombak sehingga memakan korban yang jumlahnya tidak sedikit, seperti di Situbondo dalam satu kali perahu tenggelam saja korbannya berjumlah 21 orang (Detik, 2014). Berdasarkan gambaran data dari BPBD Lampung jumlah orang yang tenggelam masih tergolong tinggi walaupun secara matematis data tiap tahun menurun, Indonesia adalah negara maritim yang wilayahnya didominasi daerah berair, jika dalam satu daerah saja terdapat 13 orang yang meninggal karena tenggelam, maka secara matematis korban tenggelam yang terhidung dari sabang sampai merauke sudah tentu banyak sekali.

Mekanisme tenggelam dapat digolongkan menjadi dua, yaitu dengan aspirasi cairan dan tanpa aspirasi cairan. Mekanisme kematian aspirasi cairan adalah asfiksia. Proses tenggelam ketika jalan nafas seseorang berada di bawah permukaan cairan, secara sadar individu akan menahan nafasnya kemudian diikuti oleh laryngospasme involunter karena cairan yang ada di orofaring atau laring, selama periode ini individu tidak dapat menghirup udara sehingga mengalami kekurang oksigen dan penumpukan karbondioksida. Perubahan terjadi di paru, cairan tubuh, tekanan gas darah, keseimbangan asam basah, dan konsentrasi elektrolit yang bergantung pada komposisi, volume cairan yang teraspirasi, dan durasi tenggelam (Santoso, 2010).

Oleh sebab itu, Penanganan dini sangat diperlukan karena drowning dapat menyebabkan paru seseorang terendam cairan, yang dapat menyebabkan kondisi yang dapat mengancam jiwa, seperti pneumonia aspirasi dan asfiksia.  Peran perawat di sini juga sangat diperlukan mengingat kebutuhan oksigenasi adalah kebutuhan dasar manusia. Pasien dengan drowning mengalami kesulitan bernafas, sehingga hal ini juga dapat menganggu kenyamanan dan nyawa pasien, maka dari itu asuhan keperawatan yang tepat dan cepat kepada klien dengan sufokasi sangat diperlukan.

 

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Definisi

Tenggelam adalah suatu bentuk sufokasi berupa korban terbenam dalam cairan dan cairan tersbut terhisap masuk ke jalan nafas sampai alveoli paru-paru. Pada umumnya tenggelam merupakan kasus kecelakaan, baik secara langsung maupun karena ada faktor-faktor lain seperti korban dalam keadaan mabuk atau dibawah pengaruh obat, atau bisa saja dikarenakan akibat dari suatu peristiwa pembunuhan (Wilianto, 2012). Hampir tenggelam (near drowning) adalah keadaan gangguan fisiologi tubuh akibat tenggelam tetapi tidak terjadi kematian (Onyekwelu, 2008).

Near drowning didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang masih bertahan hidup setelah mengalami sufokasi (kekurangan napas) akibat tenggelam dalam air atau cairan lain. Sedangkan drowning sendiri didefinisikan sebagai kematian sekunder karena asfiksia (sesak nafas) saat tenggelam dalam cairan, biasanya air, dalam 24 jam setelah kejadian (Banerjee dalam Rauuf (2008))

Drowning (tenggelam) adalah masuknya cairan ke dalam saluran napas yang mengakibatkan gangguan pertukaran udara di alveoli dan dapat terjadi mati lemas (Arif Mansjoer, 2000)

Menurut WHO (2015), tenggelam merupakan gangguan sistem pernafasan akibat terendam dalam media yang cair. Konsensus terbaru menyatakan definisi terbaru dari tenggelam harus mencakup kasus fatal dan non fatal. Dampak tenggelam dapat berupa kematian, morbiditas, dan non morbiditas. Ada juga konsensus yang menyatakan bahwa istilah basah, kering, aktif, pasif, diam, dan menengah seharusnya tidak digunakan lagi.

Drowning atau tenggelam adalah proses masuknya cairan ke dalam saluran nafas atau paru-paru yang menyebabkan gangguan pernafasan sampai kematian. Definisi tenggelam mengacu pada ‘adanya cairan yang masuk hingga menutupi lubang hidung dan mulut’, sehingga tidak terbatas  pada kasus tenggelam di kolam renang, atau perairan seperti sungai, laut, dan danau saja, tetapi juga pada kondisi terbenamnya tubuh dalam selokan atau kubangan dimana bagian wajah berada di bawah permukaan air (Putra, 2014).

2.2  Klasifikasi

Klasifikasi tenggelam menurut Levin (dalam Arovah, 2009) adalah :

A.  Berdasarkan Kondisi Paru-Paru Korban

1)   Typical Drowning

Kondisi ketika cairan masuk ke dalam saluran pernapasan saat korban tenggelam.

2)   Atypical Drowning

  1. Dry Drowning

Cairan yang masuk ke dalam saluran pernapasan hanya sedikit bahkan tidak ada.

  1. Immersion Syndrom

Terutama pada anak-anak yang tiba-tiba terjun ke dalam air dingin (suhu < 20°C), menyebabkan terpicunya reflex vagal sehingga mengakibatkan apneu, bradikardia, dan vasokonstriksi dari pembuluh darah kapiler dan mengarah ke terhentinya aliran darah koroner dan sirkulasi serebaral.

  1. Submersion of the Unconscious

Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsy atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma, hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke air.

  1. Delayed Dead

Kondisi ketika seorang korban masih hidup setelah lebih dari 24 jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.

B.  Berdasarkan Kondisi Kejadian

1. Tenggelam (Drowning)

Penderita meneguk air dalam jumlah yang banyak hingga air masuk ke dalam saluran pernapasan. Bagian apiglotis akan mengalami spasme yang mengakibatkan saluran nafas menjadi tertutup dan hanya dapat dilalui oleh udara yang sangat sedikit.

 

2.  Hampir Tenggelam (Near Drowning)

Kondisi korban masih bernafas dan membatukkan air keluar.

 

2.3  Etologi

Terdapat beberapa penyebab tenggelam antara lain (Levin dalam Arovah, 2009) :

1)   Kemampuan fisik yang terganggu akibat pengaruh obat

2)   Ketidakmampuan fisik akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan

3)   Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang

 

2.4  Patofisiologi

Hipoksia merupakan hal utama yang terjadi setelah seorang individu tenggelam. Keadaan terhambatnya jalan nafas akibat tenggelam menyebabkan adanya gasping dan kemudian aspirasi, dan diikuti dengan henti nafas (apnea) volunter dan laringospasme. Hipoksemia dan asidosis yang persisten dapat menyebabkan korban beresiko terhadap henti jantung dan kerusakan sistem syaraf pusat. Laringospasme menyebabkan keadaan paru yang kering, namun karena asfiksia membuat relaksi otot polos, air dapat masuk ke dalam paru dan menyebabkan edema paru.

Efek fisiologis aspirasi pun berbeda antara tenggelam di air tawar dan air laut. Pada tenggelam di air tawar, plasma darah mengalami hipoktonik, sedangkan pada air laut adalah hipertonik. Aspirasi air tawar akan cepat diabsorbsi dari alveoli sehingga menyebabkan hipervolemia intravaskular, hipotonis, dilusi elektrolit serum, dan hemolisis intravaskular. Aspirasi air laut menyebakan hipovolemia, hemokonsentrasi dan hipertonis.

Aspirasi air yang masuk kedalam paru dapat menyebabkan vagotonia, vasokontriksi paru, dan hipertensi. Air segar dapat menembus membran alveolus dan menggangu stabilitas alveolus dengan menghambat kerja surfaktan. Selain itu, air segar dan hipoksemi dapat menyebabkan lisis eritrosit dan hiperkalemia. Sedangkan, air garam dapat menghilangkan surfaktan, dan menghasilkan cairan eksudat yang kaya protein di alveolus, intertitial paru, dan membran basal alveolar sehingga menjadi keras dan sulit mengembang. Air garam juga dapat menyebabkan penurunan volume darah dan peningkatan konsentasi elektrolit serum.

Hipoksia merupakan salah satu akibat dari tenggelam, dan merupakan faktor yang penting dalam menentukan kelangsungan hidup korban tenggelam. Karena itu, ventilasi, perfusi, dan oksigenasi yang cepat dibutuhkan untuk meningkatkan tingkat survival korban.

1. Perubahan Pada Paru-Paru

Aspirasi paru terjadi pada sekitar 90% korban tenggelam dan 80 – 90% pada korban hamper tenggelam. Jumlah dan komposisi aspirat dapat mempengaruhi perjalanan klinis penderita, isi lambung, organism pathogen, bahan kimia toksisk dan bahan asing lain dapat memberi cedera pada paru dan atau menimbulkan obstruksi jalan nafas.

2. Perubahan Pada Kardiovaskuler

Pada korban hampir tenggelam kadang-kadang menunjukkan bradikardi berat. Bradikardi dapat timbul karena refleks fisiologis saat berenang di air dingin atau karena hipoksia. Perubahan pada fungsi kardiovaskuler yang terjadi pada hampir tenggelam sebagian besar akibat perubahan tekanan parsial oksigen arterial (PaO2) dan gangguan keseimbangan asam-basa.

3. Perubahan Pada Susunan Saraf Pusat

Iskemia terjadi akibat tenggelam dapat mempengaruhi semua organ tetapi penyebab kesakitan dan kematian terutama terjadi karena iskemi otak. Iskemi otak dapat berlanjut akibat hipotensi, hipoksia, reperfusi dan peningkatan tekanan intra kranial akibat edema serebral.Kesadaran korban yang tenggelam dapat mengalami penurunan. Biasanya penurunan kesadaran terjadi 2 – 3 menit setelah apnoe dan hipoksia. Kerusakan otak irreversibel mulai terjadi 4 – 10 menit setelah anoksia dan fungsi normotermik otak tidak akan kembali setelah 8 – 10 menit anoksia. Penderita yang tetap koma selama selang waktu tertentu tapi kemudian bangun dalam

4. Perubahan Pada Ginjal

Fungsi ginjal penderita tenggelam yang telah mendapat resusitasi biasanya tidak menunjukkan kelainan, tetapi dapat terjadi albuminuria, hemoglobonuria, oliguria dan anuria. Kerusakan ginjal progresif akan mengakibatkan tubular nekrosis akut akibat terjadinya hipoksia berat, asidosis laktat dan perubahan aliran darah ke ginjal.

5. Perubahan Cairan dan Elektrolit

Pada korban tenggelam tidak mengaspirasi sebagian besar cairan tetapi selalu menelan banyak cairan. Air yang tertelan, aspirasi paru, cairan intravena yang diberikan selama resusitasi dapat menimbulkan perubahan keadaan cairan dan elektrolit. Aspirasi air laut dapat menimbulkan perubahan elektrolit dan perubahancairan karena tingginya kadar Na dan Osmolaritasnya. Hipernatremia dan hipovolemia dapat terjadi setelah aspirasi air laut yang banyak. Sedangkan aspirasi air tawar yang banyak dapat mengakibatkan hipervolemia dan hipernatremia. Hiperkalemia dapat terjadi karena kerusakan jaringan akibat hipoksia yang luas.

2.5  Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala yang sering muncul ialah tanda dan gejala sistem kardiorespiratori dan neurologi. Distres respiratori awalnya tidak terlihat, hanya terlihat adanya perpanjangan nilai RR tanpa hipoksemia. Pasien yang lebih parah biasanya menunjukkan tanda hipoksemia, retraksi dinding dada, dan suara paru abnormal. Manifestasi neurologi yang muncul seperti penurunan kesadaran, pasien mulai meracau, iskemik-hipoksia pada sistem saraf pusat sehingga menunjukkan tanda peningkatan ICP (Elzouki, 2012).

Sedangkan menurut sumber lain, manifestasi drowning yang muncul antara lain:

1.      Frekuensi pernafasan berkisar dari pernapasan yang cepat dan dangkal sampai apneu.

2.      Syanosis

3.      Peningkatan edema paru

4.      Kolaps sirkulasi

5.      Hipoksemia

6.      Asidosis

7.      Timbulnya hiperkapnia

8.      Lunglai

9.      Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi

10.    Koma dengan cedera otak yang irreversible

 

Tanda dan gejala neardrowning berbeda-beda pada setiap individu tergantung pada durasi dari tenggelamnya. Manifestasi klinis yang biasa muncul antara lain (Raoof, 2008):

1)      Asimtomatik

2)      Simtomatik

Pasien sadar namun gelisah dan sesak nafas.Insufisiensi pulmonar dapat berkembang cepat bersamaan dengan takipnea, takikardia, batuk dengan sputum berwana pink serta berbusa, dan sianosis.

3)      Cardiopulmonary arrest : Pasien mengalami apnea, bradikardi, ventricular tachycardia/fibrilation, asistole, dan nampak seperti tidak sadar.

 

Tanda-tanda yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning), yaitu :

  1. Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah
  2. Lebam mayat biasanya sianotrik kecuali mai tenggelam di air dingin berwarna merah muda
  3. Kulit telapak tangan/telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer woman’s hands/feet)
  4. Kadang terdapat cutis anserine/goose skin pada lengan, paha dan bahu mayat
  5. Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang bersifat melekat
  6. Bila mayat dimiringkan, cairan akan keluar dari mulut/hidung
  7. Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air/bahan setempat berada dalam genggaman tangan mayat
  8. Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti
  9. Saluran napas mayat berisi buih, kadang berisi lumpur, pasir.

10.  Lambung mayat berisi banyak cairan

11.  Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli

12.  Organ dalam mayat mengalami kongesti

 

2.6  Pemeriksaan Diagnostik

Pasien dengan drowning harus melakukan X-ray dada dan monitoring saturasi oksigen.Radiografi dada mungkin menunjukkan perubahan akut, seperti infiltrasi alveolar bilateral.Selain itu, pemeriksaan sistem saraf pusat, EKG, dan analisis gas darah juga diperlukan (Elzouki, 2012). Berikut pemeriksaan diagnostic lainnya yaitu: 

  1. Laboratorium
    1.  ABG + oksimetri, methemoglobinemia dan carboxyhemoglobinemia CBC prothrombin time, partial thromboplastin time, fibrinogen, D-dimer, fibrin
    2. Serum elektrolit, glukosa, laktat, factor koagulasi
    3. Liver enzymes :
      1. Aspartate aminotransferase dan alanine minotransferase,
      2.  Renal function tests (BUN, creatinine)
      3. Drug screen and ethanol level
      4. Continuous pulse oximetry and cardiorespiratory monitoring
      5. Cardiac troponin I testing
      6. Urinalisis
      7. Imaging:
        1. Foto thoraks : bukti aspirasi, edema pulmo, atelektasis, benda asing, evaluasi penempatan endotrakea tube
        2. CT scan kepala dan servikal bila curiga trauma
        3. Extremity, abdominal, pelvic imaging bila ada indikasi
        4.  Echocardiography jika ada disfungsi miokard
        5. EKG

Kateter swan-ganz untuk monitor cardiac output dan hemodinamik pada pasien dg status CV tidak stabil atau pasien yang membutuhkan pengobatan inotropic multiple dan vasoaktif.

 

untuk makalah dengkapnya silahkan diownload disini



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung


    widget

clock

flag cunter

    free counters

tes

bottom

Pengunjung

    139.598